Semua calon ibu tentulah merasakan suatu kekhawatiran yang teramat besar tentang proses persalinan. Opini bahwa melahirkan itu sakit kerapkali menghantui setiap ibu hamil. Hal ini pun saya rasakan pada saat saya tengah mengandung, baik itu kehamilan yang pertama maupun yang kedua. Sehari sebelum saya melahirkan putra yang kedua, saya masih sempat berjalan-jalan ke sebuah toko buku untuk melihat-lihat buku tentang proses melahirkan. Di antara beberapa buku yang saya baca, saya sangat tertarik dengan buku yang berjudul "Hypnobirthing, melahirkan tanpa rasa sakit". Dari buku tersebut itulah saya mengetahui bahwa rasa takut dan kecemasan itu justru akan semakin membuat proses persalinan itu sulit dan terasa sangat menyakitkan lebih dari rasa sakit yang sebenarnya (rasa sakit yang dirasakan jika sang ibu dalam keadaan psikologis yang baik). Sehingga agar persalinan kita lancar, kita harus dapat "memanage" rasa sakit kita. Teknik-teknik relaksasi yang diterangkan pada buku tersebut sangatlah membantu saya pada saat proses kelahiran putra saya. Dengan mengatur nafas saat kontraksi, rasa sakit itu terasa jauh berkurang. Nah, dalam artikel ini saya mencoba untuk mengintisarikan mengenai hypnobirthing tersebut.
Hypnobirthing adalah suatu terapi yang mengadaptasi teknik hipnotis untuk meminimalisir bahkan menghilangkan rasa sakit yang dirasakan oleh wanita saat ia melahirkan.
HypnoBirthing ini dicetuskan berdasarkan buku yang ditulis oleh pakar ginekologi Dr. Grantly Dick-Read, yang memublikasikan buku Childbirth Without Fear pada 1944. Terapi HypnoBirthing selanjutnya dikembangkan oleh Marie Mongan, pendiri HypnoBirthing Institute.
Terapi ini mengajarkan para ibu untuk memahami dan melepaskan Fear-Tension-Pain Syndrome yang seringkali menjadi penyebab kesakitan dan ketidaknyamanan selama proses kelahiran.
Saat kita merasa takut, tubuh mengalihkan darah dan oksigen dari organ pertahanan non esensial menuju kelompok otot besar di wilayah kaki dan tangan. Akibatnya, area wajah ‘ditinggalkan’, makanya ada ungkapan “pucat karena ketakutan”. Dalam situasi yang menakutkan, tubuh mempertimbangkan bahwa uterus atau rahim dipandang sebagai organ ‘tidak penting’ . Menurut Dr. Dick-Read, rahim pada perempuan yang ketakutan secara kasat mata memang tampak putih.
HypnoBirthing mengeksplorasi mitos bahwa memang rasa sakit adalah hal yang wajar dan dibutuhkan saat melahirkan normal. Saat perempuan yang melahirkan terbebas dari rasa takut, otot-otot di tubuhnya termasuk otot rahim akan mengalami relaksasi, yang akan membuahkan proses kelahiran yang lebih mudah dan bebas stres.
Dengan hypnobirthing, tahapan proses kelahiran juga menjadi lebih pendek, mengurangi kelelahan selama perjuangan melahirkan bayi dan ibu akan tetap segar, penuh energi setelah melahirkan.
Seseorang yang menerapkan hypnobirthing pada saat proses persalinannya akan memberikan sebuah respon yang positif terhadap kontraksi yang dirasakannya. Secara cepat ibu akan belajar mempercayai insting melahirkan pada tubuhnya, bahwa tubuhnya diciptakan untuk bekerja dalam irama yang selaras saat mengeluarkan bayi ke dunia.
“Ada perbedaan besar antara HypnoBirthing dan kelas pendidikan melahirkan lainnya, dan ini bukanlah hanya potongan hipnotis. HypnoBirthing lebih menekankan melahirkan dengan cara positif, lembut, aman dan bagaimana mencapainya denganmudah,” ujar Mongan.
Pada 1958, the American Medical Association menyetujui terapi dengan menggunakan hipnotis, meski sejauh ini terapi hipnotis yang dipakai untuk memudahkan proses kelahiran bayi belum banyak diketahui publik.
Rasa nyeri saat melahirkan bisa disebabkan oleh ketakutan. Namun, rasa nyeri itu kini dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali. Lewat sebuah proses latihan relaksasi dan metode hypnobirthing, Lanny Kuswandi memperkenalkan cara melahirkan tanpa rasa sakit.
Menurut Dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp. KJ, rasa cemas pada banyak orang dewasa sekarang adalah akibat dari rekaman getaran kehidupan mereka sejak dalam kandungan. Padahal, bayi di dalam kandungan perlu mendapat ketenangan dan kedamaian dari ibunya. Getaran seperti itulah yang akan terekam sampai usia dewasa.
Dalam bukunya, Super Baby, Dr. Sarah Brewer mengungkapkan bahwa kecemasan dan stres yang berlebihan pada saat hamil sama berbahaya dengan ibu hamil yang perokok. Keadaan itu bisa berakibat bayi lahir prematur, kesulitan belajar, anak menjadi hiperaktif, atau bahkan mengalami autisme. Menurut Dr. Sarah lagi, stres yang berlebihan pada ibu hamil akan mengakibatkan kadar pregnanolone dalam tubuh tidak mencukupi.
Untuk mengatasi kecemasan itu Lanny Kuswandi mengembangkan teknik relaksasi dan hypnobirthing yang disadapnya dari berbagai pusat latihan di Amerika Serikat. Menurut Lanny, persalinan yang normal selayaknya berlangsung lancar.
Pada beberapa penelitian di negara Barat membuktikan, ibu hamil yang mengikuti latihan mengalami lebih sedikit komplikasi dibandingkan dengan yang tidak terbiasa melakukan relaksasi secara teratur. Adanya rasa nyeri yang berlebihan lebih disebabkan adanya rekaman di alam bawah sadarnya.
“Bayangkan saja, semua orang selalu mengatakan bahwa melahirkan itu sakit sekali,” ujar wanita lulusan pendidikan kebidanan RS St. Carolus Jakarta ini. Katanya lagi, kontraksi otot pada saat persalinan adalah sebagai upaya membantu terbukanya jalan lahir. Karena kontraksi itu, leher rahim akan menjadi lunak, menipis, dan mendatar, kemudian menarik leher rahim. Saat itulah kepala janin menekan mulut rahim sehingga membuka.
Bila si ibu sudah terbiasa relaksasi, jalan lahir akan lebih mudah terbuka. Keuntungan lain dari teknik ini adalah mencegah kelelahan yang berlebihan saat persalinan.
Program PositifHypnobirthing adalah relaksasi dengan penambahan sugesti melalui usapan. Tangan menjadi sarana untuk mengusap daerah bawah payudara hingga perut. Sebenarnya cara ini telah dilakukan secara natural oleh ibu-ibu hamil saat janinnya meronta dalam kandungan. Ketika itu ibu akan mengusap perut sambil membisikkan kata-kata lembut yang menenangkan.
Untuk mengikuti program yang diajarkan Lanny, ada empat langkah yang harus dijalankan, yaitu:
Pertama, kepala dimiringkan di atas bahu kanan kemudian diputar sampai di atas bahu kiri, kembali ke bahu kanan sampai delapan kali hitungan. Setelah itu jari kanan di atas bahu diputar ke belakang sebanyak delapan kali. Lalu tangan tetap di atas bahu diputar ke depan sebanyak delapan kali pula.
Kedua adalah relaksasi otot. Berbaring santai, lengan di samping kanan dan kiri, telapak kanan menghadap ke atas. Lalu tegangkan telapak kaki hingga merambat ke betis, paha, pinggul, dan dada. Pundak ditarik ke atas dan kedua telapak tangan dikepal kuat-kuat. Dahi dikerutkan, lidah ditarik ke arah langit-langit.
Ketiga berupa relaksasi pernapasan. Dalam keadaan berbaring, otomatis napas akan terdorong ke arah perut. Tarik napas panjang melewati hidung sambil hitung sampai 10. Kemudian embuskan napas perlahan-lahan lewat mulut, lakukan 10 kali.
Keempat relaksasi pikiran, langkah ini diwakili oleh indra mata. Setelah mata terpejam sejenak, buka mata perlahan-lahan sambil memandang satu titik tepat di atas mata, makin lama kelopak mata makin rileks, berkedip, dan hitungan kelima mata akan menutup.
Pada saat ketiga unsur jiwa (perasaan, kemauan, dan pikiran) dan raga istirahat, masukkan program positif yang akan terekam dalam alam bawah sadar. Contoh program positif, “Saya dan janin di dalam kandungan akan tumbuh sehat. Dan saat persalinan akan menghadapinya dengan tenang.”
Mudah-mudahan, dengan mengetahui dan mempraktekkan langkah-langkah hypnobirthing ini, kita akan dapat menjalani proses persalinan yang menyenangkan.
Label: Cerita Bunda
Everybody wants to have a happy family which can give comfort and satisfaction in life. For having a happy family, we should check out these secrets and try our best to practice them in our daily life.
Happy Family Secret No. 1: Enjoy Each Other
The essence of a happy family is that they truly uplift each other and that all comes down to how they treat each other, says Rabbi Shmuley Boteach, a New York-based family and relationship counselor and host of The Learning Channel's Shalom in the Home. "There is a joy that characterizes their interaction," says Boteach, father of eight children and author of several books, including the forthcoming Shalom in the Home. "Parents come home and the kids are happy to see them and when kids come home, the parents are happy to see them."
Happy Family Secret No. 2: Swap Stories
"When your kids come home, ask them what happened in school and have a story for them," he says. "If you come home dejected and not really interested and then five minutes later the TV is on, why would they be happy to see you?"
The bottom line, he says, is that when you come home, your kids have to come first. "You must drop everything you are doing and always come home with something to share with your kids, whether a story or even the smallest vignette," he says. "This way you give your kids something to look forward to. The great bane of family life is boredom and that is what leads to dysfunction, affairs, and kids wanting to be with their friends over family."
Happy Family Secret No. 3: Put the Marriage First
"Set a real example of love," Boteach says. "The relationship and marriage must come first." Think Carol and Mike Brady of the Brady Bunch and Cliff and Clair Huxtable of the Cosby Show.
There are many families where kids always come first, says Boteach. Then they become substitute providers of love, he says. "That's an unfair burden to put on a kid." It's also bad for families, he says, "because kids will move out of the house eventually."
Happy Family Secret No. 4: Break Bread Together
Families that eat together, stay together. It's that simple. "Family dinners are essential," Boteach says. "It's a time to connect." Have a minimum of four family dinners per week, he suggests.
Happy Family Secret No. 5: Play Together
"Have one or two unifying activities that the family does together on a nightly basis," Boteach says. He suggests bedtime stories for young children or reading a chapter from a novel to an older child.
Happy Family Secret No. 6: Put Family Before Friends
"In happy families, family comes before friends," he says, "The camp counselor understands something that parents don't and that is that caring for kids also has to be fun. Give rules, but understand that kids need fun, too. When kids get bored and listless, they start looking for excitement out of the home and that is when friends become more important. Friendship is important, but subordinate to family."
Happy Family Secret No. 7: Limit Children's After-School Activities
Today, growing numbers of kids are overscheduled and participate in six or seven after-school activities per week. The mother becomes a chauffer and the children are never home at the same time. This is not a recipe for a happy family, Boteach says. "If your kids grow up not knowing how to do ballet, they will be OK. No after-school activities is an extreme and too many activities is the other extreme, but moderation is where we should aim." Create your own after-school activities as a family, he suggests. For example, take your kids rollerblading, bike riding, or swimming after school as a family.
Happy Family Secret No. 8: Build and Honor Rituals
"Families need rituals," Boteach says. Rituals can be religious, national, or even family-specific, he says.
Barbara Fiese, PhD, professor and chair of psychology at Syracuse University in New York, agrees. "Happy families have meaningful rituals and are not stressed out by them," she says. "They can be unique to your own family such as going for bagels on Saturday morning, a weekly pizza night, or even a family song. Rituals tend to bring family members close together because they are repeated over time."
To work, rituals need to be flexible, she adds. "They can't be rigid," Fiese says. "If the bagel place is closed, you have to go someplace else."
Happy Family Secret No. 9: Keep Your Voices Down
Remember that children thrive on stability. "There has to be a calm environment at home," says Boteach. "Talk to your kids, give them strict rules, and punish children when necessary, but don't lose control and yell. If you yell at kids, that shows you are out of control and you create a nonpeaceful environment."
Happy Family Secret No. 10: Never Fight in Front of the Kids
TV viewers never really saw Carol and Mike Brady go at it, did they? While some fighting or bickering may be inevitable, try to keep it away from the children, Boteach says. "If your kids see you fight and argue, apologize and say, 'We are sorry you had to see it. Daddy and I just had a disagreement, but everything is OK now.'"
Happy Family Secret No. 11: Don't Work Too Much
All work and no play does worse things to a family than make it dull. "If you are away all the time and don't prioritize your kids, your kids will internalize feelings of insecurity," says Boteach. They'll begin to believe that they're not valuable enough.
Happy Family Secret No. 12: Encourage Sibling Harmony
Sibling rivalry can be divisive. "I try to speak to my kids about how fortunate they are to have siblings," Boteach says.
Happy Family Secret No. 13: Have Private Jokes
Happy families have inside jokes, Syracuse's Fiese says, "Jokes and nicknames symbolize that this is a group that you belong to and serves as a shorthand for larger experiences," she says.
Happy Family Secret No. 14: Be Flexible
"This is easier said than done," says Fiese. "But by their very nature, families change so you have to be open to change in membership and age," Fiese says. "Somebody gets married, somebody dies, somebody remarries and teenagers are no longer children and young adults are no longer teenagers, but they are all still part of the family."
Happy Family Secret No. 15: Communicate
Rose J. Perkins, EdD, associate professor of psychology at Stonehill College in Easton, Mass., says that a happy family communicate with one another. "Frequently families are set up where everyone tells the mom and then the mom sends the message, but in a happy family, there are more flexible, open lines of communication."
In happy families, "all the members of family unit are able to communicate openly," she says.
Label: Cerita Bunda
Melahirkan merupakan kodrat seorang wanita. Kendati melahirkan merupakan proses yang teramat berat dan juga menyakitkan, namun di sisi lain inilah saat yang sangat ditunggu-ditunggu. Bagaimana tidak, setelah proses ini dilalui, kita akan dapat bertemu dengan buah hati yang selama 9 bulan berada dalam rahim kita. Subhanallah, hilang sudah rasanya seluruh rasa sakit ini tatkala sesosok tubuh mungil itu ada di hadapan mata.
Saat melahirkan, ada 5 posisi yang dapat dilakukan oleh seorang ibu. Sang ibu dapat memilih posisi persalinan yang dirasakan paling nyaman. Terlepas dari itu, setiap posisi persalinan masing-masing memiliki kelebihan maupun kekurangan sendiri, serta tidak ada satu pun posisi yang dikatakan baik ataupun buruk. Dan yang paling utama, kesiapan mental sang ibu saat melahirkan adalah hal yang paling menentukan pada proses persalinan. Kesiapan mental ini sangat berperan dalam manajemen rasa sakit yang dialami sang ibu. Saat seorang ibu dapat bersikap tenang selama menjalani proses persalinan, maka ia tidak akan merasakan rasa sakit yang hebat dan persalinan pun akan berjalan dengan lancar. Sebaliknya, apabila sang ibu gelisah dan dihinggapi rasa takut yang berkepanjangan, maka ia akan merasakan rasa sakit yang hebat dan persalinan pun akan terhambat, ditambah lagi, kondisi bayi pun terancam karena ketegangan sang ibu akan menghambat supply oksigen dari sang ibu kepada bayinya.
Nah, apa saja sih sebetulnya posisi bersalin yang memungkinkan? Inilah penjelasan dr. H. Taufik Jamaan, Sp.OG., yang antara lain berpraktik di RSIA Hermina, Jatinegara, Jakarta Timur. Menurutnya, apa pun posisi yang dipilih, yang terpenting harus diperhitungkan secara cermat dengan memperhatikan kondisi ibu.
1. BERBARING
Kalangan medis akrab menyebutnya dengan posisi litotomi. Pada posisi ini, ibu dibiarkan telentang seraya menggantung kedua pahanya pada penopang kursi khusus untuk bersalin. Keuntungan posisi ini, dokter bisa leluasa membantu proses persalinan. Jalan lahir menghadap ke depan, sehingga dokter dapat lebih mudah mengukur perkembangan pembukaan. Dengan demikian waktu persalinan pun bisa diprediksi secara lebih akurat.
Selain itu, tindakan episiotomi bisa dilakukan lebih leluasa, sehingga pengguntingannya bisa lebih bagus, terarah, serta sayatannya bisa diminimalkan. Begitu juga dengan posisi kepala bayi yang relatif lebih gampang dipegang dan diarahkan. Dengan demikian, bila ada perubahan posisi kepala, bisa langsung diarahkan menjadi semestinya.
Kekurangannya, letak pembuluh besar berada di bawah posisi bayi dan tertekan oleh massa/berat badan bayi. Apalagi jika letak ari-ari juga berada di bawah si bayi. Akibatnya, tekanan pada pembuluh darah bisa meninggi dan menimbulkan perlambatan peredaran darah balik ibu. Pengiriman oksigen melalui darah yang mengalir dari si ibu ke janin melalui plasenta pun jadi relatif berkurang.
Untuk mengantisipasi hal ini biasanya beberapa saat sebelum pembukaan lengkap, dokter menyuruh pasien untuk berbaring ke kiri dan atau ke kanan. Dengan demikian suplai oksigen dan peredaran darah balik ibu tidak terhambat.
Dalam kasus-kasus tertentu, semisal baru pertama melahirkan, posisi berbaring berpeluang menyulitkan ibu untuk mengejan. Alasannya, gaya berat tubuh yang berada di bawah dan sejajar dengan posisi bayi menyulitkan ibu untuk mengejan. Selain itu, posisi ini pun diduga bisa mengakibatkan perineum (daerah di antara anus dan vagina) meregang sedemikian rupa sehingga menyulitkan persalinan.
2. MIRING
Posisi ini mengharuskan si ibu berbaring miring ke kiri atau ke kanan. Salah satu kaki diangkat, sedangkan kaki lainnya dalam keadaan lurus. Posisi yang akrab disebut posisi lateral ini, umumnya dilakukan bila posisi kepala bayi belum tepat.
Normalnya, posisi ubun-ubun bayi berada di depan jalan lahir. Posisi kepala bayi dikatakan tidak normal jika posisi ubun-ubunnya berada di belakang atau di samping. Nah, dalam kondisi tersebut biasanya dokter akan mengarahkan ibu untuk mengambil posisi miring. Ke arah mana posisi miring si ibu tergantung pada di mana letak ubun-ubun bayi. Jika berada di kiri, maka ibu dianjurkan mengambil posisi miring ke kiri sehingga bayi diharapkan bisa memutar. Demikian pula sebaliknya.
Keunggulan posisi ini, peredaran darah balik ibu bisa mengalir lancar. Pengiriman oksigen dalam darah dari ibu ke janin melalui plasenta juga tidak terganggu. Alhasil karena tidak terlalu menekan, proses pembukaan akan berlangsung secara perlahan-lahan sehingga persalinan berlangsung lebih nyaman. Posisi melahirkan ini juga sangat cocok bagi ibu yang merasa pegal-pegal di punggung atau kelelahan karena mencoba posisi yang lain.
Sayangnya, posisi miring menyulitkan dokter untuk membantu proses persalinan. Dalam arti, kepala bayi susah dimonitor, dipegang, maupun diarahkan. Dokter pun akan mengalami kesulitan saat melakukan tindakan episiotomi.
3. JONGKOK
Posisi ini sudah dikenal sebagai posisi bersalin yang alami. Beberapa suku di Papua dan daerah lain memiliki kebiasaan melakukan persalinan dengan cara berjongkok seperti ini. Oleh karena memanfaatkan gravitasi tubuh, ibu tidak usah terlalu kuat mengejan. Sementara bayi pun lebih cepat keluar lewat jalan lahir. Tak heran karena berbagai keunggulan tersebut, beberapa RS/RSB di Jakarta menerapkan posisi persalinan ini untuk membantu pasiennya.
Sedangkan kelemahannya, melahirkan dengan posisi jongkok amat berpeluang membuat kepala bayi cedera. Soalnya, tubuh bayi yang berada di jalan lahir bisa meluncur sedemikian cepat. Untuk menghindari cedera, biasanya ibu berjongkok di atas bantalan empuk yang berguna menahan kepala dan tubuh bayi.
Bagi para dokter, posisi ini dinilai kurang menguntungkan karena menyulitkan pemantauan perkembangan pembukaan dan tindakan-tindakan persalinan lainnya, semisal episiotomi.
4. SETENGAH DUDUK
Diakui atau tidak, posisi ini merupakan posisi yang paling umum diterapkan di berbagai RS/RSB di segenap penjuru tanah air. Pada posisi ini, pasien duduk dengan punggung bersandar bantal, kaki ditekuk dan paha dibuka ke arah samping. Posisi ini cukup membuat ibu nyaman. Kelebihannya, sumbu jalan lahir yang perlu ditempuh janin untuk bisa keluar jadi lebih pendek. Suplai oksigen dari ibu ke janin pun berlangsung optimal.
Kendati begitu, posisi persalinan ini bisa memunculkan kelelahan dan keluhan punggung pegal. Apalagi jika proses persalinan tersebut berlangsung lama.
5. DALAM AIR
Melahirkan dalam air sudah sejak lama dikenal di negara-negara Eropa Timur dan beberapa negara Asia. Namun di Indonesia, hingga saat ini belum ada satu pun RS/RSB yang menyediakan fasilitasnya. Taufik mengaku pernah diminta seorang pasien mancanegara yang ingin menjalani proses melahirkan dalam air. Si pasien juga memberikan berbagai referensi, baik dari buku maupun video, tentang tata cara melahirkan dalam air. Berdasarkan referensi tersebut, saat pembukaan 4 atau 5, ditemani suami dan dibantu dokter, pasien yang semula berbaring di tempat tidur masuk ke sebuah kolam. Hanya dengan mengejan beberapa saat, bayi akan lahir dan langsung berenang dalam kolam lalu dokter anak akan langsung membopongnya untuk diperiksa.
Taufik menegaskan, perlunya sarana dan prasarana yang amat memadai bila ingin melahirkan dengan posisi ini. Tentu saja kolam bersalin yang digunakan haruslah didesain khusus dan tidak boleh digunakan oleh sembarang orang. Temperatur airnya pun harus selalu sama persis dengan suhu tubuh si ibu saat melahirkan. Akurasi ini penting untuk mencegah temperature shock saat bayi meluncur ke dalam kolam. Sterilitas air pun perlu diperhatikan agar tidak menyebabkan infeksi pada ibu maupun bayinya.
Harus diakui, melahirkan dalam air memiliki kelebihan tersendiri, yaitu adanya relaksasi terhadap semua otot tubuh, terutama otot-otot yang berkaitan dengan proses persalinan. Mengejan pun jadi lebih mudah dan konon rasa sakit selama persalinan tidak dialami oleh pasien yang melahirkan dalam air.
Tak cuma itu. Meskipun belum ditunjang oleh penelitian ilmiah, proses melahirkan dalam air bisa mencegah kepala bayi cedera. Terhindar dari trauma atau cedera kepala memungkinkan IQ bayi menjadi lebih tinggi dibanding sesama bayi yang lahir dengan posisi lainnya.
Kekurangannya, risiko air kolam tertelan oleh bayi sangatlah besar. Oleh karena itu, proses persalinan ini tidak hanya membutuhkan bantuan dokter kebidanan dan kandungan saja, melainkan juga dokter spesialis anak yang akan melakukan pengecekan langsung saat bayi lahir. Ada tidaknya air yang masuk maupun gangguan lainnya bisa langsung terdeteksi dan segera diatasi dengan baik. Selain itu, bila prosesnya berjalan lama, bisa-bisa ibu mengalami hipotermia alias suhu tubuh terlalu rendah.
Label: Cerita Bunda
Sebagai orang tua, kita pasti ingin sekali mengetahui karakter dan bakat anak kita agar kita dapat mengasah dan mengarahkannya dengan baik. Nah, bila anda memang berminat untuk mengetahui bakat anak anda, sekarang ini telah diketemukan suatu alat pendeteksi bakat yang disebut Dermatologyphics Multiple Intelegence (DMI) yang diketemukan oleh seorang ilmuwan asal Singapura, lembaganya dikenal dengan nama Brainylab Inc. (sekarang berganti nama menjadi Synergy Inc.).
DMI merupakan suatu alat yang bisa membaca bakat anak melalui scan sidik jari yang disebut “Finger Print Test”. Langkah test ini adalah dengan men-scan kesepuluh jari kita, masing-masing dari tiga posisi,yaitu posisi tengah, kiri dan kanan. Meski terlihat sederhana, hasil deteksi menggunakan DMI diyakini cukup akurat karena merupakan brainmapping yang menggunakan delapan kecerdasan majemuk yang juga menjadi acuan para psikolog, yaitu kecerdasan logis-matematik, kecerdasan linguistik-verbal, kecerdasan spasial-visual, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan ritmik-musical, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan natural.
Keunggulan dari FPT ini jika dibandingkan dengan konsultasi melalui jasa psikolog adalah bahwa FTP membutuhkan waktu yang lebih singkat, hanya dalam waktu satu atau dua hari maka analisa FTP bisa kita dapatkan. Ditambah lagi, hasil konsultasi dengan psikolog terkadang belum tentu prima karena sangat tergantung dengan keadaan psikologis anak.
Untuk melakukan FPT ini, anak kita harus berusia minimal 2 tahun. Sebenarnya FTP ini bukan untuk anak saja, kita yang sudah dewasa pun bisa. Dengan melakukan FTP kita bias lebih mengenali diri kita sendiri yang akan berdampak pada kemajuan profesi kita maupun hubungan kita dengan keluarga.
Biaya yang dipatok untuk FTP ini memang mahal, Lembaga Pendidikan Primagama sebagai pemegang lisensinya di
Label: Cerita Bunda
Lembaga-lembaga pendidikan berorientasi pada metode-metode untuk mengakselerasi kemampuan intelektual secara dini. Dengan harapan dapt mencetak "super kids", sang anak ajaib dengan kepintaran intelektual luar biasa.
“EARLY RIPE, EARLY ROT…!”Gejala ketidakpatutan dalam mendidik ini mulai terlihat pada tahun 1990 di Amerika. Saat orangtua dan para professional merasakan pentingnya pendidikan bagi anak-anak semenjak usia dini. Pendidikan dilaksanakan dengan cara memaksa otak kiri anak sehingga membuat mereka cepat matang dan cepat busuk. (early ripe, early rot!).Anak-anak menjadi tertekan. Mulai dari tingkat pra sekolah hingga usia SD. Di rumah, para orangtua kemudian juga melakukan hal yang sama, yaitu mengajarkan sedini mungkin anak-anak mereka membaca ketika Glenn Doman menuliskan kiat-kiat praktis membelajarkan bayi membaca. Bencana berikutnya datang saat Arnold Gesell memaparkan konsep “kesiapan-readiness “ dalam ilmu psikologi perkembangan temuannya yang mendapat banyak decakan kagum. Ia berpendapat tentang “biological limititations on learning”. Untuk itu ia menekankan perlunya dilakukan intervensi dini dan rangsangan inlelektual dini kepada anak agar mereka segera siap belajar apapun.Tekanan yang bertubi-tubi dalam memperoleh kecakapan akademik di sekolah membuat anak-anak menjadi cepat mekar. Anak -anak menjadi “miniature orang dewasa “. Lihatlah sekarang, anak-anak itu juga bertingkah polah sebagaimana layaknya orang dewasa. Mereka berpakaian seperti orang dewasa, berlaku pun juga seperti orang dewasa. Belum lagi media begitu merangsang keingintahuan anak tentang dunia seputar orang dewasa; memekarkan bahasa, berpikir dan perilaku anak tumbuh kembang secara cepat.
Lagu yang sangat menyentuh bukan? Anak yang digegas alias anak karbitan ternyata merasa bahwa dia tumbuh dengan liar. Saat seorang anak dikarbit menjadi seorang "super kid" dia kehilangan waktu untuk menikmati kebersamaan dengan orang tua dan teman-temannya. Sekolah dan kursus-kursus yang menyita waktunya membuat dirinya merasa haus akan kasih sayang. Saat kelas akselerasi menyeretnya untuk bergaul dengan orang dewasa ... kehausan ini akan semakin terasa. Sang Super kid akan merasa terasing dikelilingi oleh orang-orang dewasa yang tak berpikiran seperti dirinya dan memahami dirinya. Tak ada kecupan dan belaian sayang yang ia terima layaknya anak seusia dia. Yang ada adalah tuntutan dan tekanan yang begitu berat karena ia harus bertingkah layaknya orang dewasanya agar ia bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Saat kehausan akan kasih sayang ini menggila hingga tak dapat lagi ia bendung... saat itulah hidupnya dalam bencana.
Mudah-mudahan kita dapat menjadi orang tua yang bijak dan mendidik anak-anak kita dengan baik tanpa memaksakan sesuatu yang sulit untuk dijalani dan diraih oleh mereka hanya untuk memuaskan obsesi dan rasa bangga kita.Referensi: Makalah yang ditulis oleh Dewi Utama Faizah
Direktorat Pendidikan TK &SD Ditjen Dikdasmen Depdiknas
Label: Cerita Bunda
Kedua anak saya senang sekali corat-coret. Walaupun saya beri buku tulis atau buku gambar, mereka tetap mecuri-curi waktu untuk corat-coret di dinding, meja, kursi, bahkan kasur, bantal, guling, dan baju mereka sendiri pun terkadang menjadi ajang kreasi mereka. Si Sulung yang berusia 6 tahun seringkali menuliskan apa yang dipelajarinya di sekolah, sedangkan si Bungsu yang baru berusia 16 bulan sudah mulai senang corat-corat kendati masih berupa benang kusut. Itulah dunia anak... corat-coret merupakan salah satu cara mereka mengekspresikan diri dan berkreasi.
Pada anak, lanjut guru besar tetap dan dosen psikologi di Universitas Indonesia ini, yang penting adalah bersibuk diri secara kreatif dan menyenangkan. "Ini diperlukan oleh setiap anak. Karena itu orang tua harus memberikan dukungan kepada anak untuk berkreasi. Jangan malah dilarang."
Kalau anak sering dilarang, terangnya, bisa menghambat kreativitas, spontanitas dan keberaniannya untuk ekspresi diri. Selain itu, bakatnya pun akan sulit berkembang. "Jangan lupa, perkembangan setiap anak itu merupakan hasil interaksi antara pembawaan atau potensi dengan lingkungannya."
Dr. Utami menambahkan, orang tua sebaiknya mendukung dan menyediakan sarana serta prasarana untuk kreativitas. Dalam hal corat-coret, antara lain kertas gambar, papan tulis, kapur warna, pensil warna, bermacam-macam krayon dan sebagainya. "Untuk batita, alat corat-coretnya yang tepat ialah krayon. Ukurannya bermacam-macam, ada yang kecil-kecil dan besar. Yang baik itu ukurannya besar dan tebal, karena anak akan lebih mudah dalam memegangnya."
Sarana dan prasarana ini juga penting untuk memunculkan keinginan corat-coret pada si anak. Sebab, terang Dr. Utami, "Jika anak belum pernah melihat sarana dan prasarananya, maka keinginan untuk corat-coret belum timbul. Namun setelah si anak mulai corat-coret, biasanya segala apa akan dicoreti. Mulai dari kertas, tembok, lantai, sampai baju dan tangan-kakinya sendiri." Nah, bila si anak corat-coret bukan pada tempatnya,ujar Dr. Utami, memang harus dilarang. "Anak harus diajarkan untuk melakukan sesuatu itu pada tempatnya. Setiap anak sejak kecil harus tahu tempat-tempat tertentu yang harus dijaga dan dirawat dengan baik, juga tak merugikan dan mengganggu orang lain."
Caranya melarang anak corat-coret bukanlah dengan hukuman atau larangan ketat, tapi diberikan pengertian dan alternatifnya, sehingga si anak mengerti bahwa corat-coret tak boleh dilakukan di sembarang tempat. Bila anak masih saja sering corat-coret di sembarang tempat, kita harus terus-menerus memberikan pengertian. Menurut Dr. Utami, "Anak memang tak bisa diharapkan langsung berubah hanya dengan satu kali diberi peringatan. Jadi, kita harus terus berulang-ulang memberinya pengertian."
Selain itu, kita seharusnya mengajak anak untuk membersihkan tempat yang dicoretinya ataupun menghapus bekas coretannya. Hal ini dimaksudkan agar anak mengerti bahwa ulahnya itu menyusahkan orang lain dan dirinya sendiri.
Dr. Utami berpesan, "Hukuman bukan hanya menyebabkan anak merasa sakit secara fisik, tapi juga membuatnya tak tahu apa yang harus ia lakukan. Karena hukuman belum memberi tahu tentang perilaku apa yang baik." Beliau pun mengatakan, dengan orang tua memberi peringatan atau mengatakan "Tidak boleh" saja, bagi anak sudah merupakan suatu hukuman. Karena anak akan melihat bahwa orang tuanya tidak senang, sementara setiap anak selalu ingin adanya hubungan kasih sayang antara dirinya dengan orang tua. Sebaliknya, bila orang tua memberi pujian, anak pun akan senang karena terpancar dari raut muka ibunya yang juga senang. Karena itu, kala anak menunjukkan perilaku baik, orang tua hendaknya memberikan reward."
Mengarahkan anak untuk tidak berbuat sesuatu memang tidaklah mudah; membutuhkan kesabaran, strategi, dan pendekatan yang tepat. Sistem punishment and reward pun harus dapat kita aplikasikan dengan bijak. Jangan terlalu banyak memberikan punishment sehingga anak justru akan cenderung menganggap peringatan kita sebagai angin lalu ataupun malah menghambat proses perkembangan dan pertumbuhan mereka. Di sisi lain, reward pun harus kita berikan dengan tidak berlebih-lebihan, tidak harus berupa benda hadiah, yang dapat berakibat anak menjadi gift-oriented. Pujian, belaian, dan ciuman sayang kiranya dapat menjadi reward yang membahagiakan dan memberi motivasi agar selalu berusaha melakukan hal-hal yang baik.
Label: Cerita Bunda
Dampak psikologisnya, menimbulkan rasa sayang, nyaman, percaya dan berani menjangkau orang lain. Efeknya adalah menumbuhkan kemampuan membangun dan memelihara hubungan yang akrab. Semua itu berdayaguna sebagai dasar perkembangan emosi anak di kemudian hari.Sebaliknya, kerakusan dan keserakahan bisa berkembang sebagai akibat kurang memperoleh makanan dan cinta pada tahun-tahun awal kehidupan. Ini karena tugas perkembangan pertama fase oral adalah memperoleh rasa percaya, percaya kepada orang lain, dunia, dan kepada diri sendiri. Dan cinta adalah perlindungan terbaik dari ketakutan, dan ketidakamanan.
Itu mengandung makna, betapa ASI turut serta berpengaruh terhadap kepribadian anak-anak. Bahkan RA Kartini, seorang tokoh wanita Indonesia pun menyebutkan, bahwa kejahatan dan kebaikan manusia terberikan melalui air susu ibu (Nota Kartini untuk Rooseboom dalam Sulastin, 1977:388). Syarat utama anak berbahagia sebenarnya bermula dari orangtua yang berbahagia. Anak belajar dari hal yang diucapkan secara verbal dan dirasakanoleh orangtuanya. Pola orangtua mengatasi stress menjadi suatu pembelajaran pula bagi anak.
Proses memberikan ASI memiliki aspek psikologis dan rohaniah antara ibu, bayi dan ayah, bukan sekedar tempel dan membiarkan bayi menyusu. Gelombang otak anak usia 0-7 tahun cenderung lambat di sekitar frekuensi delta/theta atau sekitar 0,5-7 hertz. Gelombang otak lambat berhubungan dengan fungsi intuisi dan telepati. Sehingga anak 0-7 tahun memiliki kemampuan yang hebat dalam mendeteksi, merasakan dan mengekspresikan emosi.
Menyusui yang dilakukan dengan penuh cinta dan keikhlasan, maka data tersebut akan terekam dalam saraf bayi, yang akan menyirami benih cinta dalam diri mereka sendiri. Selain itu sesuai dengan kajian tentang genetika dan pola asuh, proses menyusui yang didasari kesadaran jiwa, keselarasan hati, dan cinta kasih akan mempengaruhi ekspresi genetik yang ideal dan menghasilkan kesehatan fisik yang optimal.Sehingga ASI merupakan kondisi dasar untuk membentuk anak yang peuh cinta dan sukacita.
Label: Cerita Bunda
Bayi-bayi yang disusui oleh ibunya akan tenang dan tidak mudah gelisah untuk waktu yang lama. Bahkan setelah mereka disapih mereka lebih kuat menghadapi situasi yang bisa membuat stres, misalnya perceraian orangtuanya. Demikian bukti ilmiah terbaru tentang manfaat ASI bagi bayi yang dipublikasikan dalam jurnal Archives of Disease in Childhood.
Label: Cerita Bunda

